Menjadi Noni Belanda di Indischetafel

Keadaan Bandung yang dingin dan hujan membuat gerombolan saya dan teman memutuskan untuk ke Indischetafel, sebuah restoran masakan Indo-Belanda yang direkomendasi oleh seorang kakak kelas. Sebagai penjelajah kuliner setia, saya dan teman-teman memutuskan untuk ke sana (gaya).

Lokasi Indischetafel di Jalan Sumatera no. 19 (kalau tidak salah), sebelahnya restoran Origin, persis banget, tembok ke tembok, wall-to-wall, heart-to-heart. Interior restoran ini mirip dengan rumah-rumah jaman dulu, jadi ada kesan vintage yang kental di dalamnya dan berasa balik ke jaman dijajah kumpeni dulu. Layaknya rumah, restoran Indischetafel memiliki ruangan-ruangan yang kesannya private jadi bisa buat makan bareng sama keluarga atau mau gusip-gusip cantik.

interior lampu dan jendela

taplak meja lawas

Berasa di rumah nenek

Dengan interior begini, jadi berasa di rumah nenek yang jadulista. Jadi pengen nginep. Lanjut. Menu di sini rata-rata pakai bahasa Belanda, tapi TAK PERLU WATIR, ada penjelasannya sodara-sodara. Ada aneka poffertjes yang lazis, pancake, kue yang loetjoe, dan lain-lain. Saya lagi gak pengen makan yang berat-berat, jadi saya pesan makanan pembukanya saja, macaroni schotel dengan saus mustard. Untuk minumnya, karena tidak ingin yang bikin eneg juga, saya pesan Earl Grey, biar elit gitu sih maksudnya. Kalau teman saya, ada yang pesan lidah sapi, poffertjes, dan satu menu teman saya yang saya lupa namanya karena dalam boso Belanda. Untuk minumannya, ada yang pesan jus melon, terus sesuatu karamel (lupa) dan teh tarik.

si lidah sapi

macaroni schotel dengan saus mustard

earl grey tea dengan teko unik kayak tas sosialita jakarta

MARI KITA ULAS!!!

Untuk macaroni schotel-nya saya bilang ENAK. Ada saus krim dan keju di atasnya dan daging gilingnya banyak. ENAK BANGET POKOKNYA. Sayang kurang banyak (rakus). Kalau lidah sapinya menurut saya enak, tapi saya memang bukan penggemar lidah sapi sih, geli. Cuman kata teman saya, agak kurang, tapi bolelaaa~. Kalau untuk poffertjes-nya ENAK! Lembut banget dan dalemnya masih agak basah gitu, lazis pokoke. Nah terus untuk Earl Grey-nya ya standar lah ya, karena pakai teh dari Dilmah, yang unik adalah peralatannya. Untuk cangkirnya, saya dikasih cangkir yang mirip tea set dari Inggris itu (apa sih istilahnya, ya itulah) dan tekonya yang GAK SANTAI desainnya. Jus melonnya kata temen saya enak, uniknya ada ornamen berupa daun yang diselipkan di gelas, yang ternyata adalah hasil ukiran dari melon. Untuk teh tariknya termasuk unik, jadi penyajiannya itu di mug keramik dan diletakkan di atas lilin supaya tahan panas. LAZIS DAN UNIK POKOKNYA.

Soal harga, saya rasa masih termasuk murah sebenarnya dengan suasana restoran yang unik dan rasa makanan yang ENAK. Untuk pesanan saya:

Macaroni Schotel –> IDR 19000
Earl Grey Tea –> IDR 12500

Total adalah sekitar IDR 37000 sudah dengan pajak 15% yang mencekik. Ya sudahlah. Karena enak dan unik, saya beri rating 8.5/10!

Oiya informasi ekstra, tiap pagi mereka ada breakfast time, menunya kayaknya seperti pancake syalala gitu ya, mulai dari jam 7 pagi sampai jam 11. BIG NIUSNYA ADALAH BREAKFAST INI DISKON 30%!!!!!!!!!! #supergasantai

Yuk yang mau ajak saya kencan tapi pengen tetep hemat, silahkan ajak saya ke Indischetafel untuk sarapan. Saya pasti mau #kode #batukdarah.

Sekian.

About these ads

6 thoughts on “Menjadi Noni Belanda di Indischetafel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s