Pemakan Daging di Karnivor

Sebenarnya, setelah makan di Indischetafel (yang sudah saya post sebelum ini) selanjutnya saya makan di Karnivor. Jangan katakan saya rakus. Ini untuk memenuhi ajakan teman saja. Serius. Memang sih agak lapar, tapi sedikit.

Lokasi Karnivor adalah di Jalan Riau, di depan apa ya? Duh saya lupa, itulah pokoknya ngga jauh-jauh dari kantor pos, jangan sampai nyasar dan beranikan diri untuk bertanya pada orang-orang sekitar ya (berlebihan). Karnivor ini kata teman saya jual aneka steak gitu, wah pas banget ya buat saya yang akhir-akhir ini agak tergila-gila sama daging sapi.

Di malam yang dingin itu, saya memesan Tenderloin Steak with Blackpepper Sauce dan ditambah kondimen kentang kering BBQ. Untuk sausnya bisa pilih, ada arabica, blackpepper, mushroom, dan lainnya (alias lupa). Kondimennya juga bisa pilih mau kentang kering, atau mashed potatoes, atau salad. Minumannya, saya tidak mau yang heboh-heboh, pesannya Teh Tawar Panas. Hmm, sebenarnya saya juga heran kenapa akhir-akhir ini saya minum teh panas terus. Tidak pakai gula lagi. Mungkinkah saya menghindari gula? Mungkinkah saya menghindari yang manis-manis? Tapi saya tidak akan menjauhi kamu, wahai sayangku.

Lanjut.

ini pesanan saya

Gambar di atas adalah daging pilihan saya, dimasak medium, saya sukanya daging masih empuk (sok tahu banget). Nah yang tidak saya kira adalah kentang keriting BBQ-nya ternyata bukan kentang goreng. Emang sih digoreng, tapi jadinya keripik. Saya kecewa sih kalau yang begini-begini. Menurut saya kalau mereka bisa bikin mashed potatoes, kenapa gak meluangkan waktu untuk bikin french fries -_-. Ya sudahlah. Menurut saya sayurannya juga pelit. Padahal harganya lumayan. KALAU GITU DAGINGNYA HARUS ENAK, GAK MAU TAU.

Nah sebelum mengulas, ternyata saya baru tahu kalau saya salah pilih minuman, karena ternyata ada menu minuman yang namanya Gorilla Punch. Ini baru signature beverage dari Karnivor. Ini satu jirigen emosi gitu, kayak yang ada di Humming Bird (kayak minuman nectar-nya itu). Saya sempat nyesel. Kok gak pesan itu. Tapi sesal saya tidak berguna, ternyata satu jirigen itu isinya soda. Berasa diabetes instan minum itu. Tapi kayaknya cocok buat yang sekali-sekali makan di Bandung. Ada irisan jeruk, sirup jeruk, dan selasih  di dalamnya. Kemudian salah seorang teman saya pesan Bambu Afrika (iya, ini makanan kok, kami bukan panda) yang sebenarnya adalah roti cane yang dililit jadi bentuknya mirip dengan bambu. Ngga juga sih sebenernya, biar nyambung aja sebenernya.

Untuk dagingnya, saya rasa decent, sausnya juga so-so sebenarnya, kurang terasa lada hitamnya, masih terlalu soft buat saya. Nah ternyata kentang keritingnya enak, tapi lebih enak buat dicemil. Ck. Abis duluan deh. Sayurannya juga ternyata enak, wortelnya manis, buncisnya juga manis (kayak saya). Sayang dikit. Ck. Untuk teh tawarnya….. rasanya ya… tawar. Untuk si Bambu Afrika, saya kurang gitu suka, terkesan datar. Mungkin karena tidak cocok dengan sausnya ya, harusnya karena itu roti cane, jadinya cocok dengan saus kari. Kayaknya sih. Siapa sih saya sok tahu gini soal kuliner #cekek

Sebenarnya di sini enaknya buat nongkrong sama temen. Kalau mau nyari steak yang WOW ala hotel gitu mungkin gak di sini IMHO. Kemarin karena asik bercengkrama dengan teman-teman, apa pun terasa enak di lidah.

Soal harga, menurut saya agak kemahalan, tapi ya sudahlah, standar kuliner Bandung kayaknya.

Steak –> IDR 39000
Teh Tawar –> IDR 5000

Total IDR 44000, gak tau ada pajak atau gak, kemarin ditraktir soalnya :9 hoho. Untuk rating, saya kasih 7.0/10!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s