Tentang HEMA, Tulip dari Belanda

Buku menu HEMA

Judul post ini memang najis, tapi isinya tidak akan sejijik judulnya. Berawal dari pandangan pertama di restaurant row PVJ, restoran HEMA ini terlihat eye-catchy karena ada bunga tulip di dalamnya sebagai interior resto. Saya sedikit banyak penasaran dengan rasa makanan di restoran ini, apakah mungkin menggelinjang di lidah juga seperti resto Indo-Belanda yang dulu pernah saya kunjungi di bilangan jalan Sumatera?

Restoran ini memiliki atmosfer oranye dan bunga tulip dimana-mana, sudah jelas kalau tema yang mau diangkat adalah tentang kebelanda-belandaan. Terasa aura jadulnya dan diperkuat dengan adanya pajangan yang mirip dengan yang ada di rumah nenek saya (jangan-jangan itu memang pajangan milik nenek saya).

Pajangan ala nenek

Memang ya kalo resto seperti ini akan mengangkat tema kenenek-nenekan yang bikin kita kangen rumah nenek. Lanjut ke pesanan. Saya hari itu kebetulan belum makan nasi sebiji pun, makanya meski tampak menu steak-nya sedikit banyak menggoda, tapi saya tidak mau makan kentang, inginnya nasi. Pilihan makanan saya jatuh pada HEMA Rice, yang kalau dilihat dari namanya seperti specialty dari restoran ini (sok tahu), untuk minumnya saya pesan Chamomile Tea. Sedangkan teman saya pesan Blackberry Tea.

Tidak lama kemudian, datanglah pesanan kami, yang penampakannya sebagai berikut.

HEMA Rice

Chamomile Tea

Blackberry Tea

Mari kita ulas!!

Untuk HEMA Rice, saya rasa sih tidak ada yang begitu spesial. Ayam goreng tepung itu sepertinya adalah chicken schnitzel, terus saus yang di piring kecil adalah saus BBQ biasa, nasinya nasi putih, sayurannya sih menurut saya enak, jagungnya manis. Mengenyangkan, tapi tidak memberikan experience yang berbeda ketika merasakan makanannya, istilahnya mirip masakan rumahan bikinan sendiri.

Untuk Chamomile Tea-nya, agak meragukan di awal, karena warnanya yang sama saja dengan black tea pada umumnya, saya sempat kira salah pesanan. Tapi rasanya sih chamomile. FYI, Chamomile Tea-nya pakai daun tehnya langsung, bukan yang dalam kemasan seperti TWG atau Dilmah. Untuk Blackberry Tea, sepertinya baik-baik saja seperti lagunya duo Ratu di jaman dulu itu.

Soal harga, saya bilang di sini standar restoran saja, berikut harganya:

Chamomile Tea –> IDR 20000
Blackberry Tea –> IDR 17000
HEMA Rice –> IDR 39000

Total kami makan di sana adalah IDR 83600, sudah termasuk pajak 10%!!! Tumben ya, restoran lain sudah 15% padahal.

Sebagai tambahan daya tarik, di HEMA resto ini waktu saya datang tidak begitu ramai, ada kursi sofa (nggak bentuk sofa juga sih, cuma empuk aja) di pinggir-pinggir restoran dan pasti di setiap kursi tersebut ada colokan listrik. CUCOK BANGET BUAT YANG OPORTUNIS. Terus di dalam resto ini udah ada musholla-nya sendiri, jadi ngga perlu keluar dari lingkungan restoran kalau mau beribadah sholat. Intinya sih cocok buat yang bakalan berlama-lama. Kayaknya emang restoran ini dirancang untuk orang yang mau kerjain sesuatu dan bawa peralatan elektronik. Mungkin kalau mau lebih oportunis, bawa terminal aja, jadi kalo ramean gak perlu tukeran colokan (anak baik gak boleh tiru ya)

Untuk rating saya beri 7.3/10.0!! Ayo makan-makan!!!!

Hampir lupa, ini wajah bahagia kami setelah selesai santap malam di HEMA.

bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s