Mr. Curry

Hai pirsawan, selamat hari lebaran ya semuanya😀 maafkan segala kesalahan kontributor dalam menulis review tempat makan, itu semua hanya pandangan subjektif semata :”>

Kali ini saya akan mengulas tempat makan yang baru saya kunjungi kemarin (kebetulan gak puasa) di bilangan PIM 2, yaitu Mr. Curry. Restoran ini terletak di restaurant row di lantai paling atas PIM 2, cari aja yang interiornya adem2 menyejukkan mata.

Restoran ini menyajikan aneka masakan yg menggunakan bumbu kari. Di sini kita bisa pilih karinya sendiri, mau yg rasa apa, terus mau pedes atau gak, dan sebagainya. Tapi intinya dr makanan di sini adalah, ada nasi, terus disirem bumbu kental, yah selayaknya nasi kare yang suka ada di komik Doraemon.

Nilai plus dari resto ini adalah interiornya yang lucu dan ada maskot kucing dkk, kalo kata org jepang, “kawaii sugoi ne~.” Asiknya lagi karena ada tiruan makanan kare yang mengingatkan saya sama liburan ke Jepang beberapa tahun yang lalu. Huft, bayarin dong ke sananya.

20120819-081123.jpg

Di Mr. Curry juga suka ada promo per harinya, mayan buat yang oportumis (enggak kok, ini enggak typo)

20120819-081349.jpg

Untuk santap siang itu, saya pesen salmon horenzo omurice sesuatu (saya lupa lengkapnya, tapi ada horenzo atau horenso, yagitude) dan untuk minumnya saya pesen ocha dingin. untuk omurice, kita bisa pilih nasinya, mau butter rice atau tomato rice, saya pesennya butter rice.

20120819-081753.jpg

20120819-081926.jpg

Makanan saya kayak kebanjiran saus carbonara (kayaknya) gitu yah, hmm. Ayo kita ulas aja deh. Untuk menu omurice ini, seperti yang sudah diketahui kalau ini adalah nasi yang dibungkus dengan omelette, khas bekal ABG-nya jepang gitude yang suka dibikinin buat pacarnya, mau juga dong saya dibikinin begitu sama pacar #kode. Terus omurice ini disirem sama saus sesuatu, ada yang sausnya kari, tapi saya kebagian saus putih ini. Salmonnya ada di dalam saus putihnya, bukan di dalam nasinya. Soal rasa, hmm gimana ya, ternyata butter rice-nya sama aja kayak nasgor surabaya deket rumah saya. Nasi goreng pakai ayam fillet gitu terus dibungkus omelette. Jadi menurut saya kurang spesial gimana dan untuk saus putihnya, saya suka sih, tapi entah kenapa menurut saya kebanyakan dan membuat saya kurang berselera. Tapi emang sayanya aja sih yang bukan penggemar makanan yang tenggelam dalam saus, kalau katanya Gordon Ramsay ketika memarahi seorang finalis Hell’s Kitchen, “I can’t see the d*mn food!!”. Iya gak sih dia pernah ngomong gitu? Saya lupa. Intinya, kalo makanan yang pakai saus, ada baiknya enggak mengalahkan banyaknya lauk, sampai launya terendam, karena itu saus, bukan sup. Gitude, sok tau banget sih sayah.

Secara keseluruhan, saya gak dapat taste jepangnya, jadi berasa makan di restoran gahul gitu. Mungkin saya salah pilih menu, harusnya pilih yang kari beneran, karena memang itu specialty mereka, lain kali deh (#kode minta ditraktir). Buat ochanya, enak kok, selayaknya ocha pada umumnya.

Untuk harga saya bilang oke juga, ochanya IDR 13000, bisa diisi ulang, kalo omurice-nya IDR 59000-an kalo gak salah. Apa 60ribuan yah? Duh lupak. Di sini ada menu pencuci mulut yang kayaknya lazis, tapi saya enggak mesen, abisan kenyang banget. Lain kali deh #kode.

Saya kasih dah 7.2/10.0. Yook makan-makan lageeehhh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s